Dasinah, pengindel

Dasinah, pengindel

Dasinah,

dua puluh lima tahun setia mendampingi suaminya, Aziz Irwanto, menggeluti usaha keluarga mereka satu-satunya, sebagai perajin gula kelapa di Rancamaya, Cilongok, Banyumas. Di usianya yang sudah lewat kepala lima, dia masih semangat mengindel (memasak nira agar menjadi gula kelapa) gula kelapa setiap hari. Apakah Dasinah tidak takut kalau suami yang dicintainya itu celaka saat bekerja? Tentu. Pernah terbayang suatu saat suaminya celaka, jatuh saat menyadap nira di ujung pohon kelapa seperti beberapa kejadian yang biasa terjadi di sekitarnya. Doa berbuah manis, sang suami sekarang masih sehat, bahkan menjadi pengusaha gula kelapa yang diakui ketokohannya sebagai seorang penderes (orang yang memanjat dan mengambil nira kelapa) dan peneliti gula kelapa. Sekarang kata Dasinah, satu impiannya pada anak-anaknya, calon penerus juang keluarga, janganlah ikut jadi penderes.

 

Keluarga

Memiliki tiga anak laki-laki dan membersarkannya bukanlah hal yang mudah, apalagi sebagai istri seorang penderes. Ketika hamil anaknya yang pertama, Soni, Dasinah tetap mengindel sambil menahan berat tambahan diperutnya. Lahirnya Soni bahkan saat Dasinah mengindel di dapur. Tanpa ada bantuan dari kerabat, artinya sampai anak ketiga, siklus hamil sambil mengindel terus dirasakan Dasinah.

 

Sekarang Soni sudah dewasa dengan umur menginjak empat puluhan, bekerja dan berkeluarga. Walaupun pekerjaannya hanya menjadi buruh serabutan, hal itu tidak menjadi masalah bagi keluarga. Anak Dasinah yang kedua, Fendy, tidak jauh beda nasibnya. Fendy yang berumur dua puluh lima tahun sudah berkeluarga dan bekerja menjadi buruh toko. Sedangkan adiknya, Dani, sekarang masih sekolah. Apa tidak ada keinginan Dasinah agar anaknya meneruskan perjuangan ayah mereka menjadi penderes? “Tidak”, kata Dasinah. “Kerja apa saja tidak apa-apa, yang penting halal, tapi jangan menderes. Selama saya masih hidup dan tua sebagai perajin gula kelapa, jangan sampai anak menderes”, tambahnya.

 

Dasinah tak mau bila suatu saat anaknya jatuh dari pohon kelapa bila menderes.  “Tidak apa kalau tidak ada penerus usaha menderes ini, toh tidak akan punah yang namanya penderes. Sudah banyak perusahaan pengolahan gula kelapa, terutama gula semut menjamur di daerahnya, jadi perajin gula kelapa juga akan terus ada. Pastinya ada penderes lain yang anaknya menjadi gula kelapa kan?”, tanya Dasinah.

 

Penderes Muda

Jauh dari Rancamaya, sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor, di pedalaman Desa Sidanegara, Purbalingga, saya ingat pernah bertemu Agus, seorang pemuda yang umurnya masih 25 tahun. Tidak seperti penderes pada umumnya berusia lanjut, kepala tiga sampai bahkan kepala delapan, Agus yang masih tergolong muda. Empat pohon kelapa yang setiap hari dia sadap menghidupi ibu dan dirinya yang ditinggal sosok ayah, meninggal beberapa bulan lalu akibat jatuh dari pohon kelapa saat menderes. Memang bukan mutlak karena keinginan sendiri untuk menderes, Agus harus terus menderes karena memang ada kontrak kerja pengepul dan almarhum ayahnya yang belum selesai. Toh memang Agus tidak punya pekerjaan tetap sebelumnya, maklum hanya lulusan SMP.

 

Setidaknya yang dikatakan Dasinah memang benar, ada anak penderes yang melanjutkan usaha keluarganya. Tapi Agus hanya satu anomali anak penderes dibandingkan anak penderes lain yang lebih memilih kerja yang lebih bergengsi, yang tentunya tidak bisa diharapkan keberlanjutannya. Mentok-mentoknya, anak penderes mau menyentuh gula kelapa bukan sebagai penderesnya, tapi sebagai pelaku usaha pengolahannya, baik pengurus koperasi gula kelapa semut atau lainnya, namun itu cerita lain. Kalau sudah begini, nanti siapa yang akan melanjutkan menderes di Rancamaya kalau ternyata semua keluaga penderes berpikir sama seperti Darsinah? Punahkah?

(Adji Fachrul Ramadhan)


1 Comment

TYRA · November 18, 2018 at 3:56 am

Sekarang kata Dasinah, satu impiannya pada anak-anaknya, calon penerus juang keluarga, janganlah ikut jadi penderes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *